ICT historical overview

ICT atau di Indonesia disebut TIK, telah menjadi penggerak utama ekonomi dunia sejak sekitar 1970-an. Kemajuan penciptaan perangkat-perangkat elektronik menjadi mesin-mesin komputer & kontrol dan penerapannya di semua sektor Industri telah memudahkan penyelesaian pekerjaan-pekerjaan besar dengan cepat dan akurat.

Kode Morse yang ada sejak 1834 (Samuel Morse, Eropa), Telepon yang ada sejak 1876 (A Graham Bell, Amerika), Radio (wireless) sejak 1901 (G Marconi, Eropa), Komputer sejak 1939 (Hewlett-Packard, Amerika), dan banyak penciptaan mesin komputasi di waktu yang bersamaan saat itu, kesemuanya dibangun menggunakan kaidah & material elektromekanik yang sangat besar ukurannya.

Sejak manusia mampu membuat chip-chip IC di tahun 1960-an, proses digitalisasi dari semua sistem analog berjalan begitu cepat. Jaringan transmisi telepon analog diganti dengan transmisi digital, beberapa waktu kemudian sentral switching analog diganti dengan switching digital, dan sebagainya…. Kemajuan mesin-mesin komputasi juga demikian. Ukuran mesin-mesin komputasi dengan sangat cepat berubah menjadi sangat kecil dengan kemampuan yang sangat besar.

Jaringan Telepon yang digital dan di-kontrol oleh Komputer-komputer berkemampuan tinggi, dan tuntutan perubahan jaman akibat kemajuan teknologi, telah mendorong lahirnya jaringan telepon PSTN digital terpadu (ISDN) yang bisa melayani semua jenis konten/informasi (voice, data, video) di awal 1990-an. Namun harganya yang sangat mahal telah mencegah keberhasilannya. Masa ISDN inilah awal mula fiber optik masuk ke rumah pelanggan (FTTH jadul). Sebab itulah yang terus berkembang adalah modem yang terakhir mencapai bit-rate 56 kbps dan kemudian diteruskan oleh ADSL modem.

Komputer PC masuk ke beberapa universitas di Indonesia sekitar tahun 1980. Hingga tahun 1990 sebagian besar masih digunakan secara mandiri. Pada dekade 1990-an ini LAN berkembang dipacu oleh munculnya software-software jaringan seperti Novell netware dan dipacu juga oleh game-game multiplayer seperti Doom. Singkat cerita… terjadi Booming Internet sejak 1995 dan dibarengi dengan beredarnya Windows’95 OS yang berslogan “user-friendly”.

Menjelang masuk abad 21, atau menjelang thn 2000, adalah tonggak kemajuan hardware komputer dengan beredarnya processor dengan material baru “Pentium”. Kecepatan dan kapasitas yang jauh lebih tinggi memungkinkan PC bisa dibuat apa saja; mengolah voice, video, animasi, VR, dsb. yang sebelumnya hanya ada di angan-angan. Akibatnya, pengembangan konten multimedia menjadi sangat luar biasa. Memasuki abad-21, bermunculan banyak game-engine. Bahkan beberapa film bioskop telah memamerkan perpaduan kehebatan software & hardware dengan sangat luar biasa.

Langsung melompat saja ke masa sekarang…. Jaringan ICT dunia telah mengerucut ke arah terjadinya integrasi fase ke-2 setelah ISDN. Integrasi ini dipicu oleh adanya tuntutan jaman yang menginginkan tersedianya semua jenis layanan melalui satu gadget saja. Orang mau nelpon, ngenet, nonton TV, chatting, atau apa sajalah… jangan sampai harus membawa ransel atau koper yang penuh dengan beragam gadget.

Untuk membantu mengingat sejarah itu, berikut disajikan gambar sederhana. Gbr-1. Sejarah teknologi TIK

Sebentar lagi akan terjadi integrasi jaringan. Jaringan yang baru nanti akan totally berbasis paket IP. Diberi nama NGN (next generation network) Ada yang menyebutnya “All-IP network”…. Lalu kalau ada lagi nanti diberi nama apa ya?? NGN-2, next NGN?

Telepon seluler berbasis IP, Telepon rumah (PSTN) berbasis IP, broadcasting TV berbasis IP, …. pokoknya “everything is over IP“. … Wah bagaimana migrasi kesana ya? Bagaimana kalau mau menelepon teman? Apakah harus men-dial IP-address, v6 lagi? Apakah sambil browsing atau googling bisa pula menelpon? Sambil searching bisa pula video-conference? Dan banyak tuntutan layanan ber-azas “pokoknya harus ada”.

Sementara di sisi operator muncul juga banyak pertanyaan. Apakah semua ISP akan juga berlomba menjadi operator telepon rumah? Wow seru dong… Apakah semua ISP akan menyiarkan sepakbola dan Film? …. Apakah semua TV-Cable akan menjadi ISP dan operator telepon?? . . . Apakah di era TV Digital ini, semua stasiun TV akan juga menyediakan layanan Internet?? . . . . Apakah semua operator besar seperti PT Telkom, Indosat, dan XL akan menyediakan semua konten (TV, internet, media massa, telepon & SMS) dengan harga yang sangat murah sehingga ISP-ISP kecil akan bangkrut?? . . . wow tambah seru saja nih..

Itulah kawan, gambaran kecil dari era konvergensi sebentar lagi. Akankah itu akan menjadi BELANTARA ICT. . . . ataukah menjadi pasar bebas ICT yang harmonis dan nyaman bagi seluruh rakyat Indonesia?? Tergantung bagaimana Regulator mengaturnya. Tergantung seberapa konvergen pola pikir dari orang-orang yang duduk di dalamnya. Tergantung seberapa paham dan pedulinya para wakil rakyat dan para penentu kebijakan di negeri ini, dan seberapa konvergen alur-pikir mereka semua.

Yang jelas negara kita masih konsumen besar ICT…?? akankah dipertahankan “prestasi” kita sebagai pengguna terbesar ICT??  Bila iya, segera ganti kurikulum ITB, ITS, UI, dan semua prodi terkait ICT di seluruh Indonesia menjadi “teknik menggunakan ICT” atau tutup saja prodi-prodi itu agar tidak semakin banyak pengangguran intellektual. Karena apabila Indonesia tetap menjadi konsumen, maka tenaga kerja yang diperlukan hanyalah peng-import, kuli pelabuhan, distributor, pedagang, penjaga toko, teknisi tukang servis ringan, salesman, operator pengguna, dst. yang pasti tidak memerlukan tenaga Doktor engineering. (nh/0110)

4 Comments

  1. jilly
    Posted January 19, 2010 at 2:37 am | Permalink

    bener Pak..
    kpan ya??? bangsa kita mnjadi produsen???

    kalau sifat gengsi di negeri kita msih besar sebagai cntoh beli celana msti LEVI’s, spatu minimal merk adidas, kacamata pke oakley, trs msh bnyk fenomena lain yg intinya bangsa kita suka produk asing..

    kemudian klo hmpir smua WNI konsumtif thdp produk bangsa lain ntr produk negara kita g da yg beli, klo mncoba untk memasarkan ke ke negara lain apakah mngkin soalny di negrinya sndiri barang kita tidak dpercaya..

  2. Posted February 1, 2010 at 11:24 am | Permalink

    yaah itulah mas Jilly yg mesti kita suarakan terus bareng-bareng…
    semoga makin banyak orang yg kompeten mau duduk di DPR dan pemerintahan.
    yaah itulah mas Jilly yg mesti kita suarakan terus bareng-bareng… semoga makin banyak orang yg kompeten mau duduk di DPR dan pemerintahan.

    salam hangat,
    nonot

  3. Posted March 9, 2010 at 9:22 pm | Permalink

    Wah saya sependapat nih dengan pemikiran bapak. Saya sempat merasa kenapa di indonesia itu sepertinya lebih mengikuti tren mode teknologi yang terupdate saja. Tetapi kenapa sampai saat ini belum bisa membentuk lulusan it yang menghasilkan, kalau bahasa bapak masih sebagai pengguna saja. Kesannya negara kita ini masih buangan untuk menerima produk2 it terbaru.

  4. furi
    Posted March 18, 2010 at 10:20 am | Permalink

    iya pakk..
    bener..
    terbukti saya setengah mudeng dan setengah gampangkan, karena saya selalu beranggapan “halah udah ada yang jadi gitu looo”..
    selalu seperti ituu..
    pingin buat, tetapi selalu dianggap “LAPO angel2…wes ada yang jadi gitu loo..selalu seperti itu”

    semoga, tidak hanya harapan!!
    ayo semangat!

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>